Sabtu, 29 Agustus 2015

Balada Rif'ah 2



Sesampainya Ummu Nida dan Ummu Rosyid di kantor DPD, gedung itu terlihat lengang. Sama sekali tidak ada aktivitas perkantoran seperti hari-hari biasa. Ummu Rosyid membuka pintu utama dengan kunci yang dibawanya. Sebagai seorang kader senior, Ummu Rosyid memang diberi kepercayaan untuk memegang kunci kantor DPD. Kedua ummahat yang masih bertubuh sintal itu pun langsung menuju ke ruang serbaguna yang ada di bagian belakang gedung DPD untuk bersiap-siap.
Tak berapa lama kemudian, mereka mendengar suara motor yang tengah diparkir di halaman depan. Mereka pun langsung tahu siapa pemilik motor tersebut. Dengan ketukan sepatu kets yang berdecit, Faizah juga memasuki ruang serbaguna tersebut.
“Assalamualaikum, Ummu Nida, Ummu Rosyid,” ujar akhwat berkulit gelap itu sambil tersenyum.
“Wa’alaikum salam warahmatullah, Faizah,” jawab Ummu Nida yang kemudian diikuti juga oleh Ummu Rosyid.
Tanpa basa-basi, Faizah langsung menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, sementara Ummu Nida sudah siap dengan pakaian bela dirinya.

Rabu, 26 Agustus 2015

Wasiat Harta Warisan 7



Disadur dari Tuan Tanah Kedawung karya Ganes TH.

Demikianlah sebuah kisah panjang yang dituturkan oleh Nyi Londe kepada Giran, putra sulung Tuan Tanah Kedawung yang mendengarkannya dengan penuh perhatian.
“Begitulah kejadian sesungguhnya yang melanda keluarga besar ayahmu, Giran. Kini terserah kepadamu, mau percaya atau tidak. Yang pasti tugasku kini sudah selesai.” Kata Nyi Londe sambil bangkit dari tempat duduknya.
Pemuda ini terpaku, termenung dalam kebisuan. “Peti pusaka itu telah selamat jatuh ke tangan pewarisnya yang berhak. Kukira Ratna dan Samolo pun tidak perlu ucapan terima kasihmu, andai pun kau mau mempercayai semua kenyataan itu secara jujur. Yang penting bagi mereka cumalah pengertian darimu. Karena betapa pun mereka telah banyak menderita, sengsara, bahkan terlalu banyak, Giran!” sambung pengasuh ini tanpa bermaksud membujuk.

Selasa, 25 Agustus 2015

Pulau Dosa 2



CHAPTER 04 : WELCOME TO PULAU DOSA

Edi adalah orang terakhir yang memasuki ruang tengah kapal Noda Dosa pagi itu. Pemuda beramut ombak itu menggosok-gosok matanya sebelum mengambil piring yang telah disediakan di sudut ruangan.
“Jadi kalian sudah melihat rekamannya?” Aryosh yang baru saja menyelesaikan sarapannya bertanya kepada Enyas.
“Kita sedang makan, Yosh,” Asri memandang kesal ke arah Aryosh. Gadis itu merasa sedikit mual saat Aryosh menyebut tentang rekaman yang mereka terima di kamar masing-masing.
“Ada gambaran, Nyas?” Aryosh bertanya lagi, mengabaikan Asri yang melotot ke arahnya.
“Masih samar,” jawab Enyas sambil meletakkan sendok dan garpunya. “Kita masih butuh banyak sekali petunjuk.”
“Setidaknya ada satu tugas yang mudah, kan?” Nurul yang berada di meja lain ikut menanggapi pembicaraan. “Yah, setidaknya aku sudah menyelesaikan tugas pertamaku,” gadis itu terlihat bersemangat.

Minggu, 23 Agustus 2015

Rumah Kontrakan 14.

Sudah hampir pukul sebelas ketika aku pulang malam itu. Badanku capek sehabis kerja seharian, jadi aku tidak berniat untuk mengunjungi salah satu dari Ece, Siska, maupun Mitha. Aku ingin langsung tidur malam ini. Besok aja kembali kugumuli mereka satu per satu.
Aku melangkah pelan menuju kontrakan. Sebagian besar rumah sudah terlihat gelap, semua penghuninya sudah pada tidur, bahkan termasuk juga rumah Siska.  Hanya ada satu cahaya yang memancar menerangi jalan, dari rumah Ece. Lagi apa dia malam-malam begini?
Tapi aku tak berniat untuk mencari tahu. Maka sambil berjalan mengendap-ngendap, diam-diam aku melangkah mendekati pintu rumah dan berusaha memasukkan kunci tanpa suara. Namun sepertinya aku memang ditakdirkan untuk tak bisa langsung istirahat malam ini karena belum sampai pintuku terbuka, seseorang menyapaku ramah.