Sabtu, 01 Agustus 2015

Ibu yang Pura-pura 4



"Go, bangun! Heh.. sudah sore." Suara itu cukup keras hingga membuat Dirgo membuka matanya yang masih terasa berat.
"Ayo bangun, sudah jam 4. Ayam-ayam kamu beri makan dulu sekalian masukkan kandang." lanjut bapak Dirgo yang masih berdiri di ambang pintu kamar, laki-laki itu kemudian berlalu dari situ ketika melihat Dirgo sudah bangun dan dengan malas melangkah keluar.
Di dapur, Dirgo melihat ibunya yang sedang merebus air. Atikah tersenyum melihat anaknya yang masih terlihat ngantuk berat. "Ayo, jangan malas gitu. Nanti ibuk buatin kopi." ucap Atikah sambil mengelus rambut anaknya yang terlihat acak-acakan.
Dirgo tersenyum kecil. Melihat ibunya, ngantuknya langsung sirna, teringat dengan kejadian tadi yang begitu nikmat. "Iyah, kopinya agak pahit ya, buk," ucapnya sambil melangkah keluar dapur melewati ibunya. Dengan pura-pura tak sengaja tangannya merabai bokong ibunya yang terlihat bulat dalam balutan daster lusuh.
Atikah geleng-geleng kepala dengan keisengan anaknya, tapi rasa bangga itu selalu ada setiap Dirgo berulah jahil. "Aku masih menarik.." desis Atikah sambil tersenyum.

Rabu, 29 Juli 2015

Serial Petualangan Evan 11



Evan masih tidur ketika Franda melangkah pelan ke kamar mandi. Di ruang tengah dia tertegun, matanya menatap sekilas sofa ruang tamu dimana Evan dan Hesty bersetubuh tadi malam. Bayangan kontol besar Evan yang menghentak-hentak di memek basah Hesty kembali menyeruak dalam pikirannya, membuat celana dalamnya dengan cepat melembab hangat.
“Enggak,” Franda mencoba mengusir bayangan itu. Namun tubuhnya gemetar ketika masuk ke kamar mandi, lututnya terasa lemah dan dengan cepat dia menutup pintu.

Selasa, 28 Juli 2015

Carpe Diem : The Next 3



Aku mendengarkan cerita sisil dengan mengangguk-angguk. "Sil, aku telepon Debby ya? Sisil musti cerita semua ke Debby."
Cecilia memandangku, lalu menunduk. Kulihat bahunya bergetar.
"Jangan sampai ketahuan papa mama, kasian mereka. Tapi Sisil juga harus jaga diri." aku menambahkan, sambil tanganku memencet-mencet handphone.
“Tilulit... tulilut...tanda sms masuk.
"Mas Andi, hari ini mau kemana? Mampir Paradise ya." sms dari Nina.
Kutelepon dia, kukatakan kalau aku mau pulang ke luar kota, mengantarkan Cecile yang semalam nginep di rumahku. Belum sempat kuceritakan duduk perkaranya, Nina malah sibuk merengek ingin ikut. Kulirik Cecile, kulihat dia melamun, pandangan matanya kosong. Ah, biarlah. Biar ada temen pulang nantinya, pikirku.

Sabtu, 25 Juli 2015

Wasiat Harta Warisan 6



Disadur dari Tuan Tanah Kedawung karya Ganes TH.

Hari dan bulan silih berganti, beterbangan bagaikan awan-gemawan yang melayang-layang dihembus angin, seperti yang selalu dipandang Ratna dari jendela emper penggilingan kacang kedelai setiap hari. Bagaikan jendela penjara yang mengurung dirinya. Air mata Ratna hampir mengering, terkuras oleh deraan siksa dan dendam rindu yang mencekam di dadanya. Namun Giran tak kunjung pulang, meski hanya secarik kertas beritanya dari Negeri seberang.
“Kak Giran... Bilakah kau kembali, Kak? Mengapa kau tinggalkan Ratna begitu lama?” ratapnya di dalam hati.
Dinding-dinding gedung besar itu laksana penjara yang mengungkungnya. Kerinduannya terhadap ayahnya pun terus menyiksanya. Didengarnya dari Samolo, bahwa orang tua itu sedang menderita sakit. Seorang diri tinggal di gubuknya, tiada yang merawat dan memasaki makanannya. Betapa pedih dan sedih hati Ratna memikirkan keadaan ayahnya yang sudah tua itu. Sulit baginya untuk pergi menengoknya, karena mata mandor Sarkawi terutama tatapan mata Mirta yang sejalang mata serigala itu sungguh menakutkan hatinya. Pemuda sinting itu selalu mencari kesempatan untuk menerkam dirinya. Ratna selalu bergidik ketakutan bila mengingat hal itu. Ia selalu was-was bila berada seorang diri di tempat kerjanya maupun di emper tempat tidurnya.