Selasa, 26 Agustus 2014

Terjebak Nostalgia 4



2 tahun yang lalu...

Beberapa bulan sudah aku dan Liz menjalin hubungan, dan seperti orang-orang yang menikmati ‘kebebasan’ hidup jauh dari orang tua, beginilah kami, tinggal seatap dan menjalin cinta layaknya suami istri.

"Kayak mimpi, ya....” bisik Liz, sambil menggelendot di dadaku.

“Iya, aku nggak nyangka bakal sejauh ini sama kamu...”

Liz terkikik pelan, aku mengecup bibirku lembut.

“Jay…”

“Apa?”

“Gimana kalau semua ini cuma mimpi, dan waktu kamu bangun aku sudah nggak ada di sampingmu?”

Senin, 25 Agustus 2014

Kantor Edan



Setelah terjadi skandal yang menggemparkan, dan masuk koran pula, salah seorang petinggi PT. Ka Ling Kho Lang bunuh diri, perusahaan itu diomongin banyak orang. Jadi, pas hari ini janda mendiang petinggi itu mendatangiku, aku sempat ragu juga.

"Hah? Saya diminta memimpin perusahaan PT. Ka Ling Kho Lang? Itu tuh perusahaan Tionghoa?"

"Ya jelas Jawa-lah, Mas," kata si janda. Terus saja dia merayu-rayu. Cantik juga tuh janda muda. Umurnya, aku taksir paling 35-an gitu deh. Tapi... tampilannya kayak artis banget. Ramping kayak peragawati. Orang pasti ngg
ak nyana kalo dia udah punya anak dua.

Dari semula menolak keras, akhirnya aku pun luluh.
"Bu, saya belum pasti terima ya. Tapi cobalah, saya tanya dulu: kenapa saya diminta ke sana?"

Jumat, 22 Agustus 2014

Sang Pejantan 3



Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa dan hari-hari penuh sensasi dengan Windy. Terhitung seminggu sekali aku mengunjunginya. Harinya tidak tentu, mengikuti jam dinas suaminya yang berubah-ubah. Meski sedikit merepotkan, aku oke-oke saja. Rasanya tidak ada bosan-bosannya menyetubuhi wanita cantik yang satu itu. Meski tidak semolek Tanti, tapi ada saja ulah dan perbuatannya yang mengejutkanku. 

Pernah suatu kali ia membukakan pintu sambil telanjang. Tubuhnya basah oleh semacam minyak, terlihat sangat mulus dan mengkilat sekali. Tentu saja aku langsung panas, dan kutubruk ia saat itu juga. Kami bercinta di ruang tamu rumahnya. Empat kali Windy mendapatkan orgasme, sedangkan aku cukup sekali saja, karena selanjutnya kami meneruskan acara tukar lendir itu semalam suntuk setelah Windy menawariku makan malam.

Rabu, 20 Agustus 2014

Laut Biru 9



Cerita diambil dari novel LAUT BIRU karya stuka1788 di forum Kaskus, ss by kaskus-addict

 

Chapter IX: The Warplan

 

Sebelum melangkah lebih jauh, kita tinjau dulu kejadian yang terjadi pada Captain Artner dan HMAS Pitcairn selepas pertempuran dengan KRI Antasena. Hantaman dari torpedo Shkval memang tidak langsung menghancurkan HMAS Pitcairn, tapi akibatnya cukup parah. Kecepatan kapal melorot sehingga mirip seperti kapal pincang saja jalannya. Beberapa bagian lambung juga bocor sehingga air mengalir masuk ke dalam kapal dan membuat kecepatannya menjadi semakin payah.

Ledakan dari torpedo Shkval betul-betul hebat. Untung pada detik-detik terakhir HMAS Pitcairn melakukan belokan patah sehingga bisa terhindar dari impak ledakan, tapi tetap saja kekuatan ledakan torpedo itu membuat HMAS Pitcairn sampai terpelanting ke udara. Captain Artner berpikir, kapal lain yang lebih besar, ataupun kapten kapal yang tidak berpengalaman, pasti akan langsung musnah menghadapi Shkval. Bagaimanapun, belokan patah dan benturan ledakan tadi membuat struktur rangka HMAS Pitcairn menjadi “benar-benar patah” di beberapa bagian, karena konstruksi HMAS Pitcairn memang tidak diperuntukkan untuk melakukan manuver ekstrem semacam tadi.