Sabtu, 20 September 2014

Ketika Iblis Menguasai 3



Seminggu sebelum memasuki hari raya Ai’dul Adha maka Ustadz Mamat memperoleh tugas lebih banyak daripada biasanya. Selain itu beberapa siswi dari madrasah tempatnya mengajar memiliki suara sangat merdu menarik dan karena itu mereka mempunyai minat untuk mengikuti perlombaan kajian Musabaqqoh Tilawatil Qur’an. Dan untuk pemenang perlombaan di desa ini akan dicalonkan maju ke kontes di daerah propinsi dan selanjutnya untuk memasuki taraf nasional.

Berhubung dengan keadaan ini maka Ustadz Mamat diberikan tugas untuk melatih para calon, dimulai dengan hari Rabu sampai dengan hari Jum’at malam, dengan perkataan lain bahwa Ustadz Mamat akan meninggalkan istrinya, Aida, selama paling sedikit selama tiga hari tiga malam.

Jumat, 19 September 2014

Silent Rose Series 2



Case 2 : Blue File

PLAKK!! Cintya memukul nyamuk yang menempel di lengannya dengan sedikit kesal. Wajah cantiknya tampak makin kesal saat mengetahui pukulannya tidak mengenai nyamuk yang diincarnya. Gadis cantik berumur 22 tahun itu beranjak dari duduknya dan memandang sekeliling, dia sendiri kini tidak tahu dimana dia berada. Yang dia tahu kini dia hanya berdua dengan Gea, rekan mahasiswinya di sebuah gubuk tepi pantai. Beberapa jam yang lalu ia hampir saja tewas di lautan saat kapal yang ditumpanginya mendadak diserang hingga terbakar. Beruntung dia dan tiga orang rekannya selamat dan berhasil mencapai pulau terdekat dengan sekoci kecil yang belum sempat terbakar.

Gadis itu menyeka keringatnya, tanktop putih yang dia kenakan basah terkena air laut yang bercampur keringat, membuat bra tipisnya samar-samar membayang. Wajahnya tampak kelelahan dan penuh peluh, namun tetap terlihat manis. Cintya mengikat rambut panjangnya, mencoba menghilangkan gerah. Tidak jauh dari tempatnya duduk, Gea terlihat mondar-mandir.

Selasa, 16 September 2014

Perempuan Berbibir Tebal



Mengendap-endap bak maling jemuran, aku merapat ke dinding rumah sebelah.  Persis di samping jendela yang tertutup horden biru laut. Sudah tak sabar rasanya mendengar suara perempuan berbibir tebal, tetangga baruku.  Entah setan mana yang nongkrong di batok kepalaku hingga suara cemprengnya terdengar begitu  mendayu-dayu.  Tapi aku suka.  Jauh lebih suka ketimbang mendengar repetan istriku yang mengalahkan petasan.  Aku menunggu sekian detik. Terdengar suara sendok beradu dalam cangkir.

“Sayang, wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?”

Nah, itu dia suara yang kutunggu-tunggu. Bukan, dia bukan berbicara denganku, tapi dengan suaminya yang pesakitan dan cuma duduk di kursi roda. Jelas tidak gagah seperti aku. Tapi perempuan berbibir tebal itu selalu lemah lembut melayaninya. Sedang istriku? Hah, sehari saja dia tidak meledak, mungkin aku bisa tidur seharian. Tapi ini, oh no!  Hal sepele bisa mengundang amukannya. Menaruh handuk di tempat tidur sehabis mandi?  Itu namanya menabuh genderang perang. Koran tidak dirapikan sehabis membaca?  Wow, alamat ada ceramah mendadak.

Senin, 15 September 2014

Pendekar Romantis 4



Author : Tabib Gila

Episode 2 - Rahasia Lembah Terlarang

1. Asmara Dua Sejoli

Di depan sebuah gua, diantara dua batu besar seukuran manusia duduk bersandar seorang  pemuda berwajah tampan sambil matanya menatap ke atas. Malam tidak hanya diterangi sinar bulan yang bulat dan kuning, tetapi juga jutaan bintang yang tersebar dan berkelipkelip taburkan sinar terangi di heningnya malam. Langit seperti kubah berlampu menaungi suasana sekitar gua tersebut yang sepi dan tenang.

Letak gua tersebut kira-kira berada di ketinggian beberapa puluh kaki di atas permukaan lembah. Sambil duduk bersandar pemuda tersebut dapat melihat keseluruhan lembah itu. Jalan yang menuju ke sana kecil, terjal dan tersembunyi, apabila tidak hati-hati bisa terperosok jauh ke bawah.