Rabu, 22 Oktober 2014

Laut Biru 10



Cerita diambil dari novel LAUT BIRU karya Stuka1788 di forum Kaskus, ss by kaskus-addict.

Chapter X: The Secret


Gedung NewsTV
Lantai 2
09.44 WIB
H minus 50:16:00

Meutia mematikan handphone-nya dengan perasaan yang campur aduk antara cemas, jengkel, dan bingung. Tanpa disadari, setengah berbisik, ia pun mengutuk, sesuatu yang selama ini amat sangat jarang dilakukan oleh seorang Meutia. Beberapa orang berkerumun di dekatnya, orang-orangnya Alex. Fifi entah berada di mana, begitu juga dengan Fessy, dan dalam kebingungan, mereka pun mencoba mencari arahan dari Meutia.

Senin, 20 Oktober 2014

Putri Ular Putih 14



Semua tetangga berebut membantu persiapan pesta. Padahal saat itu Xu Xian sedang kebingungan karena hanya membawa beberapa keping uang logam di sakunya. Namun ia enggan meminta uang kepada istrinya. Sebagai pengusaha yang berhasil di Suzhou, orang tidak akan menyangka bahwa sesungguhnya ia tak mempunyai banyak uang. Hal itu akan memaksanya untuk bercerita tentang kejadian di Gunung Emas. Padahal ia telah berjanji kepada Bai Su-zhen dan Xiao Qing untuk tidak bercerita kepada siapa pun.

Semalam sebelum pesta dimulai, ketika Bai Su-zhen sedang menidurkan bayinya, Xu Xian bertanya kepada istrinya. “Bagaimana keadaanmu, Istriku?” tanya Xu Xian lembut.

“Cukup sehat, sekalipun masih terlalu lemah untuk berdiri. Tetapi jangan terlalu mencemaskan diriku.”

Sabtu, 18 Oktober 2014

Desahan Tengah Malam 2



Disadur dari Misteri Gadis Tengah Malam karya Tara Zagita

Bab 2

Dari kamar Susilo, teriakan Norman itu terdengar tidak terlalu keras, tapi jelas. Susilo yang belum tertidur nyenyak itu menjadi curiga. Ia menelengkan telinganya, menyimak suara dari kamar Norman. Dahinya berkerut menandakan perasaan anehnya.

"Sinting dia. Hampir pukul dua pagi masih teriak-teriak juga. Ada apa sih?" gerutu Susilo sendirian.

Jumat, 17 Oktober 2014

Pulau Fantasi



Tamara terbangun dengan kaget ... ada seseorang di kamarnya. Dan semua menjadi lebih jelas saat lampu lampu tiba-tiba menyala. Ia melihat beberapa pria dengan memakai penutup kepala dan membawa senjata mengelilingi dirinya.   Tamara sudah akan berteriak ketika salah seorang pria itu mengacungkan pistol ke arahnya dan berkata agar ia tenang.

“Bangun dan ikut dengan kami,” kata orang itu, yang tampaknya adalah sang pemimpin.

“Ada apa ini... siapa kalian?!” teriak Tamara.

“Diam! Cepat keluar dari tempat tidur!” ancam orang itu, bengis.